Dua Makanan Viral, Dua Reaksi yang Beda Banget
Coba lo bayangin: di satu sisi, ada nanas yang direndam minuman bubuk warna merah muda terus dijual dari mobil di pinggir jalan. Di sisi lain, ada cilok yang dibikin keriting dan dijual dari gerobak di pinggir jalan juga.
Dua-duanya viral. Dua-duanya dimakan dari kemasan. Dua-duanya laris manis.
Tapi reaksi orang? Beda banget. Yang satu dihujat habis-habisan—dibilang “ghetto”, “kampungan”, bahkan dirasialisasi . Yang satu dipuji-puji sebagai inovasi kreatif anak muda .
Pertanyaannya: kenapa sih?
Jawabannya mungkin nggak enak didengar: karena narasi tentang makanan sering ditentukan oleh identitas pembuatnya, bukan rasanya. Dan ini terjadi di mana-mana—di Amerika, di Indonesia, mungkin juga di sekitar lo.
Kool-Aid Pineapple: Nanas Merah Muda yang Jadi Kontroversi
Apa itu?
Kool-Aid pineapple adalah tren makanan yang lagi viral di Amerika. Caranya? Rendam potongan nanas dalam minuman Kool-Aid bubuk—biasanya yang rasa Tropical Punch atau Cherry—sampai nanasnya nyerap warna dan rasa minuman itu . Hasilnya? Nanas warna merah menyala yang super manis. Di luar, ada juga yang tambahin gula lagi biar makin legit .
Tren ini sebenarnya terinspirasi dari Kool-Aid pickles, makanan khas Selatan Amerika yang udah ada sejak pertengahan abad ke-20. Di sana, orang suka rendam acar dalam Kool-Aid. Nah, nanas versinya ini dipopulerkan oleh Silly Willie, seorang penjual dari Florida yang jualan “Pineapple Dreamz” dari mobilnya . Di Instagram, videonya ditonton puluhan ribu kali .
Tapi yang bikin fenomena ini meledak adalah video seorang anak kecil—yang kemudian dikenal sebagai Bubba Harrelson—yang nyobain nanas ini dan bilang, “Dat bih gah” (artinya: “that bitch gas”, atau “enak banget”) . Video itu dilihat puluhan juta kali dan jadi meme di mana-mana .
Kenapa Dihujat?
Nah, di sinilah ceritanya jadi kompleks.
Begitu tren ini menyebar, orang-orang mulai ngomentarin—tapi bukan tentang rasanya. Komentarnya lebih ke arah:
- “Ini kampungan dan cuma dimakan orang miskin”
- “Orang yang makannya keliatan kayak penerima bantuan sosial”
- “Ini pindah dari ghetto ke pinggiran kota”
- “Wah, EBT (kartu bantuan) dan krisis diabetes”
Bahkan ada yang bercanda soal selebriti Taylor Swift ninggalin Travis Kelce karena dia nyobain Kool-Aid pineapple . Ada juga sindiran soal aktor Chet Hanks yang sering “bertindak kayak orang kulit hitam” dan dianggap pengen makan nanas ini tapi takut sama opini publik .
Orang-orang juga kritik soal kandungan gulanya. Memang sih, satu toples bisa mengandung ratusan gram gula—sekitar 1.600 kalori dan 800 kalori dari gula tambahan aja . Tapi di saat yang sama, makanan manis lain kayak Frappuccino Starbucks yang punya 60 gram gula atau “cotton candy burrito” yang isinya es krim, permen, dan marshmallow, nggak pernah kena hujatan sekeras ini .
Yang jadi masalah bukan gula. Ini soal rasa hina. Soal gengsi.
Cilok Kriwil: Dari Iseng Jadi Cuan
Apa itu?
Nah, sekarang kita balik ke Indonesia.
Cilok kriwil adalah inovasi dari cilok tradisional khas Jawa Barat. Bedanya? Kalau cilok biasa bulat dan mulus, cilok kriwil punya tekstur berkerut (“kriwil”) di bagian luarnya. Tekstur ini bikin sensasi makan yang beda—lebih menarik, lebih crunchy di luar tapi tetap kenyal di dalam .
Jajanan ini viral di media sosial, terutama TikTok, karena kreatornya bikin konten storytelling yang unik dan sinematik. Hasilnya? Nggak pakai iklan berbayar, tapi tetep FYP . Banyak pengusaha muda mulai ikutan jualan cilok kriwil—dengan berbagai varian: ada yang isi keju mozzarella , ada yang pakai urat daging sapi , ada yang dikasih sambal “kiah pedes” .
Di Bogor, cilok kriwil jadi jajanan yang banyak dicari . Di Indramayu, pasangan muda Idham dan Nilam sukses besar. Modal iseng, sekarang mereka bisa habiskan 11 kilogram daging urat sapi setiap hari . Di Serang, ada Cilokatory yang bahkan udah ekspansi ke produk frozen .
Kenapa Dipuji?
Reaksi orang terhadap cilok kriwil? Berbeda banget.
- “Ini bukti ide kecil bisa jadi peluang besar”
- “Inovasi sederhana tapi berhasil”
- “Peluang usaha yang menjanjikan”
- “Strategi pemasaran digital yang cerdas”
Perhatikan bedanya: Kool-Aid pineapple dihina sebagai “ghetto”, tapi cilok kriwil dipuji sebagai “inovasi” dan “peluang usaha”. Padahal, dua-duanya makanan viral dari penjual pinggir jalan yang kreatif.
Kenapa Beda? Narasi Dibangun oleh Identitas
Inilah intinya.
Kalau lo baca analisis Newsweek tentang Kool-Aid pineapple, mereka bilang: “The tell clearly isn’t the shared calorie count. It’s the contempt that only switches on for some plates.”
Maksudnya? Kritik tentang gula itu sebenarnya cuma alasan. Karena makanan manis lain yang sama atau lebih manis—dari Starbucks sampe cotton candy burrito—nggak pernah dihujat sekeras ini . Yang bikin beda adalah siapa pembuat dan siapa pemakannya.
Kool-Aid pineapple dijual dari mobil di pinggir jalan. Penjualnya orang kulit hitam. Pembelinya juga banyak dari komunitas yang kurang mampu . Dan karena ada stigma tentang “makanan orang miskin” dan “makanan kulit hitam”, orang-orang mulai menghina.
Dalam bukunya Eating While Black, Psyche A. Williams-Forson bilang bahwa rasisme anti-kulit hitam beroperasi lewat budaya makanan. Ada penilaian mapan tentang apa yang dimakan orang kulit hitam dan apa yang orang lain pikir mereka “seharusnya” makan . Jadi, ketika orang kulit hitam makan sesuatu yang dianggap “berkelas rendah”, reaksinya bukan sekadar kritik, tapi penghinaan.
Yang lebih ironis: ketika orang kulit putih ikut makan nanas ini, mereka diejek karena “bertingkah kayak orang kulit hitam” atau “turun derajat” . Dengan kata lain, bagi banyak orang, menjadi kulit hitam dianggap sebagai “penurunan status.” Itu yang dinamakan “double standard.”
Sementara di Indonesia, penjual cilok kriwil adalah anak muda lokal yang kreatif. Mereka bukan minoritas yang terstigma. Mereka adalah “wirausaha muda” yang “memanfaatkan teknologi.” Bahkan jurnalis memakai kata “inovasi” untuk menyebut cilok kriwil .
Padahal, kalau lo pikir-pikir, intinya sama: kedua makanan ini lahir dari kreativitas orang pinggiran yang cari cara buat bertahan hidup dan cuan. Tapi karena status sosial pembuatnya beda, narasi yang muncul juga beda.
Di Indonesia, Ini Juga Terjadi—Cuma Lebih Halus
Nggak usah jauh-jauh. Di sini juga ada fenomena serupa.
1. Antara “Kampung” dan “Artisanal”
Pernah liat orang jual gorengan di pinggir jalan pake gerobak biasa? Mungkin kita lewat aja. Tapi kalau ada yang jual gorengan di kafe dengan nama “Gorengan Artisanal” dan harganya tiga kali lipat, tiba-tiba jadi keren.
Atau macem tren kukusan yang dibahas di Kompas: singkong, ubi, dan jagung kukus yang dulu cuma jajanan pasar, sekarang dikemas rapi, diberi label “pangan lokal sehat,” dan dijual dengan harga lebih mahal . Dulu kita nggak terlalu peduli sama makanan ini. Sekarang karena dikemas lebih modern dan dijual dari sepeda listrik, kita menganggapnya “tren yang sadar.”
Pertanyaannya: kenapa makanan yang dulu dianggap “jajanan kampung” jadi keren setelah dibungkus kemasan “kekinian”? Karena konteksnya berubah. Seperti yang ditulis Kompas, “sesuatu kerap harus terlihat keren terlebih dahulu sebelum dianggap benar” .
2. Viral Itu “Bermain Kelas”
Penelitian tentang tren makanan viral di Indonesia menunjukkan bahwa anak muda mengalokasikan sampai 20% pengeluaran bulanan mereka untuk jajanan kekinian . Makanan viral bukan lagi camilan, tapi simbol identitas sosial .
Artinya, ketika lo membeli makanan viral, lo nggak cuma beli rasa—lo beli status. Lo beli narasi “gue anak gaul yang ngikutin tren.” Dan karena narasi itu dibangun oleh algoritma yang mendorong konten dari kelas menengah ke atas, makanan dari pinggiran cenderung direndahkan sampai “diangkat” oleh pihak yang lebih berkelas.
Studi Kasus: Ketika Identitas Penentu Narasi
1. Lumpia Queen: Kebalikannya Terjadi di Filipina
Abi Marquez dari Filipina bisa jadi contoh kontras yang menarik. Dia mulai viral karena bikin konten nyeleneh: menggoreng marshmallow dalam kulit lumpia. Itu salah—marshmallow meleleh dan berantakan. Tapi videonya viral, dan dia malah dapet nama “Lumpia Queen” .
Yang menarik? Abi memilih konten dalam bahasa Inggris sehingga bisa diakses global. Dia sadar, “Nggak banyak kreator Filipina yang pake bahasa Inggris. Jadi meskipun resepnya bukan hal baru, sekarang bisa dipahami dunia” .
Di sini, identitas pembuatnya (orang Filipina) justru jadi nilai jual—bukan stigma. Tapi itu karena dia bercerita dengan bahasa global, bukan “khas pinggiran.” Identitasnya diangkat, bukan dijatuhkan.
2. Aldi’s Burger: Jargon Absurd yang Jadi Cuan
Di Indonesia, Aldi’s Burger jadi viral bukan karena rasanya yang “juicy lucy” (meskipun itu jargonnya), tapi karena cara promosinya yang absurd: “Aldi’s burger cempaka putih rotinya lembut, dagingnya juicy lucy Mahalini Rizky Febian bisa pesen online” diulang-ulang di kolom komentar .
Apa yang terjadi? Karena Aldi Taher adalah figur publik, bukan penjual gerobak, narasinya berbeda. Analisis dari Dosen UMJ Sampor Ali menyebut bahwa viralitas Aldi’s Burger didorong oleh “spiritual framing” dan “meme-ability”—bukan oleh identitas “kekurangan” penjualnya .
3. Ciilik Kriwil Syalala: Dari Iseng Jadi Fenomena
Kembali ke cilok kriwil. Pasangan muda Idham dan Nilam di Indramayu memulai usaha ini dari “iseng.” Mereka mau bikin cilok yang beda dari biasanya . Nggak butuh waktu lama, dagangan mereka ludes dalam 2-3 jam, dan mereka bisa habiskan 11 kg daging urat sapi setiap hari .
Apa yang mereka lakukan beda dari Silly Willie di Florida? Mereka membuat konten yang “unik dan menarik” dan mereka juga “bercerita” (storytelling) tentang produk mereka. Tapi karena mereka bukan minoritas yang terstigma, narasi publik memuji mereka sebagai “wirausaha muda” dan “inovatif” .
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Fenomena Kool-Aid pineapple dan cilok kriwil ngajarin kita beberapa hal:
- Narasi tentang makanan sering ditentukan oleh siapa pembuatnya, bukan rasanya. Makanan dari kelompok yang terstigma akan dihina, padahal makanan dari kelompok lain dengan kadar gula sama atau lebih tinggi malah dipuji .
- Kita sebagai konsumen harus lebih kritis. Jangan sampai kita ikut menghina makanan hanya karena “kelas” pembuatnya. Makanan itu punya nilai, dan penciptanya juga manusia yang layak dihargai.
- Tren viral bisa jadi peluang ekonomi besar. Baik Kool-Aid pineapple maupun cilok kriwil udah bikin orang cuan. Tapi peluang itu nggak akan maksimal kalau masyarakat terus menghina makanan dari kelompok tertentu.
- Kita bisa berkontribusi pada narasi yang adil. Dengan cara nggak ikut menghina, nggak ikut menyebarkan stereotip, dan mengapresiasi makanan dari siapa pun asal rasanya enak.
Gimana Cara Jadi Konsumen Makanan Viral yang Bijak?
- Tanya Motivasi Lo:
Sebelum lo beli makanan viral, tanya diri: “Gue beli ini karena rasanya emang enak, atau karena FOMO dan takut ketinggalan tren?” Kalau lo cuma beli karena “hits,” mungkin lo cuma korban algoritma . - Jangan Ikut-ikutan Menghina:
Kalau lo lihat ada makanan viral yang dihina karena “ghetto” atau “kampungan,” jangan ikut-ikutan. Sebelum menghina, ingat: mungkin penjualnya cuma orang yang lagi berusaha. - Hargai Kreativitas di Baliknya:
Baik Kool-Aid pineapple maupun cilok kriwil lahir dari kreativitas. Orang yang jualan Kool-Aid pineapple dari mobilnya bukan “kampungan,” tapi wirausaha yang kreatif. Sama kayak orang yang jualan cilok kriwil. - Coba Bikin Sendiri:
Kalau lo penasaran, bikin sendiri aja. Kool-Aid pineapple sebenarnya gampang: rendam nanas dalam Kool-Aid dan kulkasin . Cilok kriwil juga gampang: bikin adonan cilok, bentuk keriting, rebus, dan kasih bumbu. Dengan bikin sendiri, lo lebih menghargai prosesnya. - Kritisi Narasi yang Membeda-bedakan:
Kalau lo lihat orang menghina Kool-Aid pineapple tapi memuji makanan lain yang sama manisnya (seperti Starbucks Frappuccino atau cotton candy burrito), ingatkan mereka: “Kok beda sih? Makanan ini juga manis, kenapa nggak dihina?”
Penutup: Makanan Itu untuk Dinikmati, Bukan Dihakimi
Kool-Aid pineapple dan cilok kriwil punya nasib yang berbeda karena narasi yang dibangun publik. Yang satu dihina sebagai “ghetto” dan “kampungan,” yang satu dipuji sebagai “inovasi” dan “peluang usaha.” Padahal, dua-duanya makanan viral yang lahir dari kreativitas dan perjuangan.
Perubahan terbesar bukan pada rasa makanan, tapi pada “siapa” yang memakannya dan “siapa” yang membuatnya. Dan kita, sebagai konsumen, punya kuasa untuk mengubah narasi itu—dengan cara menghargai setiap makanan yang enak dari siapa pun pembuatnya.
Jadi, kapan pun lo nongkrong sama temen, dan ada yang bilang “Ah, itu mah makanan kampungan,” coba tanya: “Tapi enak nggak?” Karena jawaban yang paling penting seharusnya bukan soal kelas, tapi soal rasa.
Yuk diskusi! Lo pernah ngerasain ada makanan yang dihina cuma karena dari “pinggiran” tapi sebenarnya enak? Ceritakan di kolom komentar!